Cooming Soon
20-21 September 2019
Graha Bhakti Budaya ~ Taman Ismail Marzuki

Di sebuah Negeri, di dalam Istana, sedang terjadi kasak-kusuk. Ada kabar yang menggegerkan, seseorang yang disebut-sebut sebagai “Toean Besar” akan datang. Kabar ini membuat panik banyak orang. Dari bawahan sampai Kepala Istana dipenuhi kesibukan bercampur rasa penasaran. Toean Besar adalah seseorang dengan sosok yang misterius. Ada yang mengatakan, “Toean Besar adalah orang yang super kaya dan mau menggelontorkan modalnya untuk kepentingan rakyat”. Ada pula yang menambahkan, “Toean Besar itu, selain kaya raya, juga ganteng dan bertubuh besar”.
Mendengar namanya disebut saja, sudah membuat banyak orang di lingkungan Istana sigap dan ingin mengambil kesempatan untuk bertemu, meskipun hanya untuk berfoto bersama. Siapa sebenarnya Toean Besar, tak ada yang benar-benar mengetahui. Namun kasak-kusuk yang berlangsung pada akhirnya memicu timbulnya sikap saling mempengaruhi dan perilaku juga ikut berubah. Bermacam intrik dan kekonyolan mulai terjadi.
Untuk bisa bertemu Toean Besar, ada yang mengubah penampilan agar status sosial meningkat, ada pula yang nekat menyamar menjadi sang Toean Besar dan mengaku-aku dirinya sebagai Toean Besar. Ketika orang mulai mengubah diri, tak hanya gaya dan penampilan, tetapi identitas diri dan sikap juga berubah. Ada yang semula bermusuhan berubah menjadi berteman, ada pula yang tadinya kompak, tiba-tiba menikung begitu melihat peluang. Mereka akhirnya saling berbohong dan saling menipu. Dan sejarahpun ikut dipermainkan, demi mencapai tujuan.
Ada yang spesial di lakon ini, bersama aktor dan komedian, para wartawan dari beberapa media nasional ikut tampil dalam pentas Toean Besar. Bagaimana cerita ini dipentaskan? Saksikan penampilan ke-33 Indonesia Kita yang selalu membawa pesan: Jangan Kapok Menjadi Indonesia.

Cooming Soon
05-06 Juni 2019
Graha Bhakti Budaya ~ Taman Ismail Marzuki

Lakon Celeng Oleng Celeng, sebutan untuk seekor babi hutan yang liar, besar dan bertaring. Dalam banyak kisah, Celeng sering digambarkan sebagai hewan yang menakutkan dan mistis. Dalam lakon ini, Celeng menjadi pembicaraan dan kecemasan orang-orang kampung. Sebutannya, ‘Celeng Oleng’. Dengus nafasnya membuat udara menjadi panas dan mengundang hawa tegang. Orang-orang saling curiga dan mudah terpancing permusuhan. Di suatu wilayah ada dua kampung dengan latar tradisi, sejarah dan karakter yang berbeda. Satu kampung dihuni orang Batak dan kampung lainnya dihuni orang Jawa. Warga kedua kampung ini bersikap salling bermusuhan dan ketakutan dengan adanya Celeng Oleng. Konon kabarnya, Celeng Oleng mampu menghisap darah dan nyawa manusia. Bisa mencuri tanpa tertangkap karena uang dan bermacam-macam barang bisa tiba-tiba lenyap. Banyak kejadian aneh di wilayah dua kampung itu. Warganya saling curiga, “Jangan-jangan ada yang sengaja melepas celeng untuk menakuti penduduk dan membuat kacau?” Ketika ada yang bermaksud baik mau menangkap Celeng Oleng, malah dituduh sebagai pemilik mahluk yang mengerikan itu. Ketika ada yang bermaksud mendamaikan kedua kampung yang bermusuhan itu, malah dianggap pencitraan karena ingin berkuasa. Saksikan lakon Celeng Oleng yang merupakan pentas ke 32 dari Panggung Indonesia Kita.

Para pensiunan
.
Ciputra Artpreneur

.

Cooming Soon
22-23 Maret 2019
Graha Bhakti Budaya ~ Taman Ismail Marzuki

Ini kisah tentang orang-orang yang merasa ditinggalkan oleh jaman, hanya karena mereka tua. Di penghujung usianya, seorang pemain wayang orang yang terkenal, merasa orang-orang di sekelilingnya mulai mengabaikannya. Jaman berubah. Suatu hari sang tokoh menyatakan bahwa ia didatangi Semar. Bahkan menyatakan kini ia adalah titisan Semar. Oleh orang-orang sekelilingnya, bahkan juga oleh sahabat-sahabat seumurannya, dia hanya dianggap cari perhatian. Apalagi tingkah Semar itu menjadi kekanak-kanakan. Bagaimana selanjutnya? Saksikan lakon Indonesia Kita episode 31 ini.

Segera open ticket
23 Februari 2019
Graha Bhakti Budaya ~ Taman Ismail Marzuki

Album baru kelompok musik Kuaetnika bertajuk “Sesaji Nagari” akan diluncurkan melalui konser di dua kota, Jakarta dan Yogyakarta. Melalui album Sesaji Nagari, Kuaetnika mengekspresikan elemen-elemen budaya Indonesia yang belum tersentuh. Kuaetnika akan mengeksplorasi dan mengembangkan beberapa lagu daerah menjadi lebih dinamis. Diaransemen oleh Djaduk Ferianto dan Kuaetnika “Sesaji Nagari” akan menyelaraskan semangat ke-Indonesia-an, dari ujung barat sampai ujung timur.